Ibu, ajarkan lagi kepadaku ilmu-ilmu tentang kehidupan sesudah matiku ibu, ilmu tentang bagaimana menuju surgaNya yang sungguh nyata keberadaannya.
Masih teringat jelas bagaimana keriangan kecilku, dengan segala hiruk pikuk yang terpancar di segala sudut ruangan rumah kecil di kampungku itu. Dahulu tiada terpikir apa arti hidup itu, yang masih terpatri di jidat dan ubun-ubun adalah bagaimana menyenangkan hari, teriak, tertawa, makan, minum. Tanpa terpikir apa itu hidup apalagi hidup sesudah mati.
Ibu, ajarkan lagi kepadaku ilmu-ilmu tentang kehidupan sesudah matiku ibu. Sedikit-sedikit orang tuaku mulai mengajarkan bahwa pada hakikatnya ada ZAT yang maha perkasa yang lebih berkuasa dibandingkan kenakalan anak-anak yang usianya lebih besar daripadaku, bahwa ada ZAT yang lebih sayang daripada sayangnya IBU BAPAK, ada ZAT yang ternyata lebih pemurah daripada murahnya sang KAKAK, ada ZAT yang yang perkasa daripada keperkasaan SUPERMAN, BATMAN maupun ULTRAMAN.
Mulai saat itu aku mulai sedikit belajar dengan keterpaksaan tentunya untuk mulai belajar tentang agama yang nyata-nyata akan menyelamatkan kehidupanku ini. Berangkat belajar dengan bersungut-sungut selain untuk mendapatkan uang saku, atawa untuk memenuhi undangan rekan-rekan sejawat untuk bermain di arena pengajian.
Ibu, ajarkan lagi kepadaku ilmu-ilmu tentang kehidupan sesudah matiku ibu. Berkali tahun sudah terlewat, berwindu tahun sudah terlipat. Dan kini aku sudah dalam taraf untuk berfikir dan selayaknya aku bisa berpikir. Tapi ibu, dunia ternyata cukup mensilapkan mataku ibu.
Pergulatan pendidikan, permainan pola pemikiran, kelebihan logika, kesiapan pernyataan telah banyak mengubah diriku. Mulai berfikirlah diriku bahwa ada ketinggian pendidikan yang mampu dan cukup memberikan kepercayaan orang bahwa aku cukup layak untuk dipercaya bahwa aku cukup beragama. Sehingga bertahun terlewat tanpa tambahan suspensi ilmu agama, yang terpental karena ego bodoh yang mengatakan bahwa aku makhluk terpental 'terpelajar'.
Ibu, ajarkan lagi kepadaku ilmu-ilmu tentang kehidupan sesudah matiku ibu. Bisa kau lihat aku ibu, mungkin ragaku kelihatan bugar, mungkin otakku kelihatan cemerlang, mungkin kataku kelihatan terpelajar, namun itu hanya dunia, sekali lagi itu hanya dunia ibu, mengapa...why...daushite...aku bisa senaif ini ibu.
Kadang aku iri dengan mereka yang begitu semangat dengan agama ini, begitu getol mempelajari tiap lekuk dan eloknya agama ini, tetap bugar dan semangat meniti jalan pasti menuju ke haribaan Illahi, tapi aku masih di sini ibu, tetap terpana dengan dunia. Tubuhku tiada mau bergerak, sedikit bergetar dan kemballi tergeletak, tiada mampu menahan hempasan perkara kesibukan dunia ini, ya masih dengan perkara dunia ini.
Ibu, ajarkan lagi kepadaku ilmu-ilmu tentang kehidupan sesudah matiku ibu. Jangan biarkan anakmu terlalu jauh terpental dari lingkaran nikmat agama ini, yang terlalu sibuk mengejar dunia yang terlalu fana dan gemerlap untuk sekedar dikejar. Kembali ajarkan aku untuk kembali mengenal bagaimana semangat beragama ini, ajarkan aku untuk tidak mengikuti kekonyolan perilaku manusia yang hanya berpendar dan hilang untuk urusan sekecil dunia ini.
Ibu, ajarkan lagi kepadaku ibu, ajarkan lagi kepadaku, agar aku lebih mengerti, agar aku lebih memahami.