Dan pada saatnya seseorang bercerita tentang sebuah permainanan yang bernama playstation.
Bahwasanya hidup tak ubahnya bermain playstation oleh anak di subuh hari.
Begitu senangnya mereka bergelut dengan permainan, begitu sukanya mereka bergaul dengan permainannya. Karena dunianya pada saat itu, karena yang dihadapannya pada saat itu adalah sebuah layar yang menyenangkan. Dengan kelap gemerlap layar menyala, suara riuh redam membuat bising suasana, semua menjadi bingar. Karena yang ada di hadapan adalah sebuah layar yang nyata ada dan berada.
Begitu senang si anak bermain playstation, tertawa sekeras-kerasnya ketika menang. Menangis sejadi-jadinya ketika kalah. Geram ketika lawan lebih unggul. Melonjak ketika menjadi tak terkalahkan dan jumawa. Karena keadaan memang yang menjadikan si anak begitu senang dengan keadaannya saat itu, dunianya saat itu : playstation.
Dan waktupun terus berlalu, dengan si anak yang begitu nikmat terpaku dengan playstation nya saat itu, akan tetapi sang ibu melihat bahwa sudah saatnya si anak pergi menjemput dunia nya yang sebenarnya. Untuk segera menuntut ilmu. Maka playstation pun dimatikan, layar menjadi gelap kembali, tidak ada suara riuh tawa lagi, kenangan tentang runtutan kemenangan menjadi sebuah cerita yang nyatanya tiada berguna untuk hidup selanjutnya, tidak ada rasa geram lagi, tidak ada rasa senang lagi, tidak ada rasa jumawa lagi. Semua sudah sirna, kenangan tentang playsation pun juga ikut sirna dan tidak berguna.
Suara tangis si anak merengek untuk kembali bermain playsation kembali bukan sebuah alasan untuk meletakkan si anak di hadapan layar maya itu, untuk membiarkan kembali terbuai dengan lamunan dan senda gurau semata. Karena sudah saatnya playsation mati, karena sudah saatnya layar gelap kembali, dan sudah saatnya cerita kehidupan selanjutnya dimulai.
Mungkin begitulah perumpamaan hidup kita yang 'absurd' ini, kita sering berjuang mati-matian untuk memperjuangkan sesuatu yang tiada berguna bagi hidup kita selanjutnya. Kita berlomba-lomba mati-matian untuk menjadi jumawa dan memperebutkan sesuatu yang tidak ada guna bagi hidup kita selanjutnya.
Begitu keras kita tertawa untuk sebuah kefanaan.
Namun ketika layar kehidupan kita menjadi gelap, dan dunia disingkirkan begitu jauh dari nyawa kita, tiada lagi waktu untuk menyesal. Karena sesal saat itu tidak bisa jadi pelajaran selanjutnya.
image taken from : community.plus.net