Menjadi seorang yang ahli memang bukanlah sesuatu yang mudah serta gampang, perlu ada tahapan-tahapan yang musti dilalui untuk mendapatkan gelar ahli dalam arti yang sebenarnya. Kalu hanya untuk menjadi seorang yang “bisa” saja, saya kira hal yang lumrah dan umum apabila dia berada di bidang yang memang seharusnya bisa dia kuasai.
Mungkin memang sudah budaya kita ketika melihat orang yang ingin maju dan bertindak di luar batas kewajaran di antara umumnya orang kita mengatakan dan bersikap seolah-seolah melihat bahwa orang tersebut adalah orang aneh yang berusaha mengejar mimpi2 yang tidak jelas ujung pangkalnya. Ataupun tidak jarang juga kita mengatakan kata-kata yang secara implicit mengajak orang tersebut kembali ke jalan orang-orang pada umumnya. Apalagi yang mengatakan seorang yang lebih senior dari pada kita, maka dengan welcome saja kita memasukkan kata-kata yang dia berikan tanpa ada proses filter sebelumnya. Memang orang yang lebih senior itu lebih berpengalaman dari pada kita, memang orang yang senior itu juga sudah lebih dahulu tentang suatu ilmu, tapi bukankah kata-kata yang dia keluarkan itu juga didasarkan pada pengalaman dan juga pemahaman beliau terhadap kenyataan yang ada di depannya.
Seneng juga lihat iklan yang mengatakan “Nggak Semua Yang Elo Denger Itu Bener”, yang saya resapi sebagai keharusan kita untuk bisa memfilter setiap opini-opini yang ada di masyarakat dan di lingkungan kita, maka dalam ISLAM sudah diperkenaklakn dengan yang namnaya prinsip TABAYYUN. Jadi ingat dulu ketika aku masuk sekolah pertama kali, aku didekati kakak kelas diapun menanyakan kepadaku “Kamu itu tertarik pada bidanga apa?”, akupun menjawan “Saya tertarik pada bidang ini…”, maka secara spontan dia mengatakan “Wah wis to bidang ngono kuwi angel butuh ….”, dengan jelas dan meyakinkan dia menerengakan padaku bahwa hal dan tujuan ingin saya capai itu hal yang teramat sulit untuk dicapai, diserati dengan beberapa contoh yang memang masuk akal untuk diterima.
Mungkin itulah beberapa tantangan yang sering kita jumpai di lapangan, mungkin ketika melihat buku-buku yang bertajuk motivasi seolah-olah dunia sudah di genggaman kita, seolah-olah segala aral merintang tidak layak untuk menhentikan cita-cita kita. Namun pas di alam kenyataan ketika ada orang yang sedikit menyapa kita dengan sekelumit kata tentang perilaku yang kita lakukan, ataupun adanya kesulitan –kesulitan yang berusaha mengajak kita untuk memberikan opini tentang kegagalan dan ketidak mungkinan, maka kita pun mundur teratur sebagai pengecut bagaikan anak anjing yang menyembunyikan ekor kecilnya di atara kaki belakangnya.
Ayolah, bagaimana Islam bisa maju, bagaimana kita bisa membanggakan orang – orang yang kita sayangi kalau mental kita saja masih menjadi mental lempung, yang menjadi “mbelenyek” sekali dibenturkan kepada sebuah masalah. Sedangkan mereka yang hidupnya hanya untuk meraih dunia saja tanpa memikirkan akhirat saja berani berjuang mati-matian untuk menjadi yang terbaik, tetapi mengapa kita tidak bisa, bukankah semua yang kita punyai ini adalah amanah dan potensi yang suatu saat musti kita pertanggungjawaban, bukankah kita juga tiap-tiap kita mengemban misi di dalam diri kita untuk bisa menjadi yang terbaik dan membawa ISLAM ini ke tempat yang lebih terhormat.
Selama berjuang kawan dan tunjukkan bahwa orang ISLAM layak untuk disebut sebagai UMAT YANG UTAMA