
Mobilitas tinggi, semangat jihad fii sabilillah, dan di dambakan umat atas kedalaman ilmu-ilmunya. Mungkin itulah sosok ustadz ? ustadz kita, para guru daerah sang mujahid dakwah. Dan si murid (baca : warga MTA), mengimbanginya pula dengan sambutan yang istimewa pula. Dari sikap yang tawaduk, hingga menyediakan jamuan makan yang serba ?wah?. Akan tetapi, sadarkah si murid bahwa ada bahaya yang mengancam kesehatan sang ustad di balik sambutannya, terutama dalam hal jamuan makan?
Betapa bisa kita bayangkan, sang ustadz yang dikirim dari Solo, ke Semarang misalnya. Sebagai murid, kita tentu memahami betul betapa jauhnya perjalanan tentulah sangat menguras energi dan vitalitas sang ustadz. Maka tidaklah mengherankan dan sudah semestinya bila kemudian si murid menyambutnya dengan menyajikan hidangan istimewa bagi sang ustadz. Dari minuman yang menyegarkan tenggorokan, hingga tentunya makan besar. Dan menunya tentu bukan menu biasa. Tetapi luar biasa, dan pasti yang enak-enak. Dari opor ayam, ayam bakar, gulai hingga sate mungkin, dan lain-lain. Sangat istimewa. Tetapi, tidakkah si murid menyadari, bahwa yang dihidangkannya itu justru membahayakan kesehatan sang ustadz ?
Sebenarnya memang penyajian makanan yang enak dan ?wah? itu adalah wujud bakti si murid kepada sang guru. Dan, tentu tidaklah berbahaya bagi para ustadz ?dhahar? makanan tersebut, dengan catatan porsinya wajar. Akan tetapi perlu kita ingat, para ustadz tidak hanya sebulan sekali atau seminggu sekali bertugas ke daerah untuk menyampaikan ilmunya. Beliau-beliau bisa bertugas hingga 5 hari seminggu, bahkan 2 sampai 3 tempat sehari. Bayangkan jika di semua tempat mendapat jamuan makanan yang serba ?wah?, yang biasanya mengandung lemak tinggi, gula bahkan kolesterol tinggi?
Tentu bisa saja bagi sang ustadz menolak hidangan tersebut. Akan tetapi, kehalusan budinya sajalah yang tentu tak ingin mengecewakan sang tuan rumah yang sudah dengan susah payah menyediakan hidangan tersebut. Penulis mendapat data dari salah seorang dokter di BP / RB MTA, bahwa banyak para ustadz yang sering bertugas ke daerah - daerah terkena penyakit gula dan kolesterol tinggi. Apakah ini karena pola makanan beliau ?beliau di rumah? Usut punya usut ternyata tidak. Seperti kita ketahui, bahwa para ustadz kita adalah sosok-sosok sederhana, yang pada umumnya jauh dari kemewahan dunia. Baik dari segi penampilan, papan, hingga pola makan. Lalu dari mana penyakit gula dan kolesterol yang tinggi ini didapat?
Semua penyakit datangnya adalah dari Allah. Dan hanya Allah sajalah Sang Penyembuh. Tetapi berdasar ilmu kesehatan, kita juga bisa menganalisa sumbernya. Ya, jamuan yang serba ?wah? di daerah ? daerah. Sedikit demi sedikit, tetapi lama lama pasti akan menjadi bukit. Bisa kita bayangkan jika seminggu mengajar di lima tempat berbeda, dengan jamuan misalkan daging ayam saja di tiap-tiap tempat. Seminggu, sebulan, hingga setahun, dua tahun, dan lebih lama lagi barangkali. Berapa banyak kolesterol yang akan masuk ke tubuh sang guru kita?
Adalah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sekarang sebagai murid yang berbakti kepada gurunya, untuk menjaga sang guru. Menjadi tugas kita untuk bisa menyajikan sajian istimewa bagi sang guru, yang lezat tetapi juga sehat. Makanan istimewa dan lezat belum tentu yang mahal. Dan belum tentu harus daging yang banyak mengandung zat-zat tak bermanfaat. Jika kita cerdik, sayuran dan buah-buahan pun bisa menjadi istimewa. Akhirul kalam, mari kita menjaga para ustadz kita, baik kehormatannya hingga fisiknya sekalipun. Wallahu a?lam.