ditulis oleh ubaidillah pada Rabu, 19 Juli 06kategori "BISNIS" ,dengan 2 komentarKewirausahaan
Hal yang sangat patut direnungkan oleh umat Islam, dan ini menjadi
kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan)dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas, dengan dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal,dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memilikidampak besar bagi kemajuan umat.
Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuridengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah
SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal
adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW
sebelum menjadi nabi.
Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship
Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau
berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur,
dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah,
sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah
proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi
beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak
tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa
ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi
biayahidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.
Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan
perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa
di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan
darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya
bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus
diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.
Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan
pribadi,yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada
orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota
Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah
melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan
Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai
harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri
Rasulullah.
Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh
Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena
kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak
ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat
kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan
pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan
akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.
Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri,
ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah
yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut
baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang
mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil
Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh
percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang
apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah
memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).
Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi
istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem
bagihasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah
dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis
bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan
Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke
pusatbisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali
memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah
dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai
harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi
bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas
perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua
itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari
setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru
semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan
inimenjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan
daripara pemilik modal.
Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha
sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu
apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejakawal.
Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir
kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat
amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih
sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu
tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau
kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.
Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan
transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi,
tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya
dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk
didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu
membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan
bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian
junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari
nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.
Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan
kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.
Ibu rumah tangga ….mengapa tidak
Baca : Sesatnya MLM
MENANTANG..
terdapat 2 komentar untuk tulisan ini
1 | Rabu, 26 Juli 06
adi-wirawan
wah tulisannya nyemangatin banget, kayak tulisannya mnur yang merantaulah itu tu, angkatanne mas nur and mas ubaid jiwa enterpreunership nya goood bagus2
2 | Selasa, 13 Mei 08
Ummu
Asssalamu'alaikum...artikelnya bagus.Ya terkadang semangat untuk berbisnis itu ada hanya terkadang juga menurun bisa karna malas ato gengsi.Gmn??tapi yang terpenting merefresh niat itu penting. Kemabali meluruskan niat berbisnis karna nantinya hasil dari bisnis di jalan Alloh maka dalam perjalananya pun akan bersama Alloh....duuh senengnya bisa bersama Allloh terus..
Menuju ke Form