Nuansa Ramadlan lambat laun mulai terkikis, sekarang tinggal sinkronisasi antara target sebelum ramadlan dengan pencapaian hasil target yang telah terbentuk. Apakah membawa perubahan yang signifikan ataukah hanya sekedar tulisan. Bagaimana sikap kita kala dihadapkan pada suatu kondisi yang berbeda dengan harapan? Sikap apa yang akan kita munculkan pertama kali, semua itu bisa tergantung dari usaha kita dalam menempa diri. Mungkin kata orang, masalah yang melekat dalam diri kita saat ini adalah sesuatu yang mengenaskan, mengecewakan atau menyedihkan, itu persepsi mereka. Namun bisa jadi itu suatu bentuk kasih sayang dari Allah, karena kita belum banyak amal sholih lantas dikurangilah segala dosa dan kesalahan lantaran cobaan tersebut. Pantaslah kita bersyukur.
Seberapa besar tingkat permasalahan yang terjadi dalam diri kita pada dasarnya tergantung dari diri sendiri. Input informasi dan pengimplementasian dalam kehidupan yang telah lama mengendap dalam diri, adalah menjadi faktor penentu dalam menghadapi suatu permasalahan. Menurut saya, dari berbagai permasalahan yang pernah dan yang akan kita hadapi perlu suatu kombinasi yang mengarah pada homeostasis kehidupan seseorang. Ada tiga cara berfikir seseorang, pertama berfikir positif (positive thinking), berpikir negatif (negative thinking) dan berpikir benar, yakni mengarah pada obyektivitas. Berpikir positif belum tentu benar. Berpikir positif hanya untuk menenangkan perasaan, tanpa standar kebenaran. Itu bagus pada kondisi tertentu. Namun yang terakhir inilah yang sering dilupakan, berfikir benar, padahal itulah yang musti kita terapkan. Maka tidak hanya sekadar ilmu yang diperlukan untuk menopang sebuah kehidupan.
Kombinasi yang saya maksud diatas adalah kekuatan lain yang tidak nampak namun mampu memberikan efek mencerahkan dalam kita mengarungi hidup, ia adalah sebongkah iman yang bersemayam dalam hati seseorang. Oke! Ada sebuah statement yang dikuatkan dengan fakta. Seorang kafir dalam artian tidak punya iman tapi ia mampu merantasi segala permasalahan, hmm… cukup dengan uang semua beres! Bagaimana dengan semacam itu? Yup! Itu menunjukkan: pertama, Allah Maha Rahman, meski ia kafir terhadap perintah Allah tapi mereka tetap diberi rizki. Kedua, ada satu kepuasan yang muncul dalam hati seseorang kala ia telah berhasil melakukan suatu kebaikan, dan hatinya akan merasa tentram atas apa yang tengah ia lakukan, karena sesuai dengan fitrah. Hal demikian tidak bisa diukur dengan materi apapun, melainkan diri sendiri yang bisa merasakan, itulah yang tidak dimiliki oleh mereka, karena hilangnya salah satu komponen yang bersifat esensi dalam kehidupannya.
Begitulah saya sedikit sharing, kita tidak hanya berharap akan terus menemui bulan ramadlan berikutnya, tapi juga berharap kita mampu memanfaatkan moment-moment ramadlan yang telah kita lewati bersama, mampu meng up grade iman dan meningkatkan kualitas kehidupan kita selanjutnya. Hingga jika saatnya kita tiba menghadap Nya, kita telah siap.