Mengapa tentang seorang pemimpin? Ya. Menurut saya ini penting untuk menarasikan sebuah pencerminan seseorang untuk memulai belajar memimpin baik dari keluarganya sampai sebuah negara.Artikel ini kuperuntukkan bagi teman yang baru menikah bebrapa waktu lalu, yang telah lama dan yang akan menikah di waktu yang akan datang.
Baiklah. Saya mulai dari bukunya DR. Thariq dan IR. Faisal (bersaudara) yang berjudul “Melahirkan Pemimpin Masa Depan”, buku terbitan Gema Insani Press. Beliau berdua mengutip statement dari Stephen Covey, “ Apabila Anda memberikan ikan kepada seseorang, berarti Anda memberinya makan sehari. Jika Anda memberikan pancing, berarti Anda memberinya makan selama hidupnya. Jika Anda mengajarinya membuat pancing, maka sesungguhnya Anda memberinya kehidupan baru, bukan hanya makanan.”
Dikala seseorang dikatakan dewasa dan mulai berfikir untuk bertahan hidup maka ia berusaha mencari pendukung untuk hidup (kebutuhan psikis dan fisik). Fitrah manusia adalah mencari pegangan / panutan agar ia mampu berjalan meskipun tertatih selama belajar untuk tetap eksis dalam kehidupan. Hal itu dikarenakan tidak semua sesuai dengan apa yang ia inginkan, adakalanya ia menemui kesenangan dan juga kesulitan yang kadang kala mampu mengendorkan semangat. Maka dari sini haruslah tercipta sebuah pembentukan yang istimewa untuk menyelamatkannya dari kesulitan yang menghimpit. Yaitu hadirnya seorang pemimpin. Masih dalam bukunya DR. Thariq, pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan manusia menuju tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
Dalam Islam pun telah diatur, “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.” Dan untuk itulah Allah tidak segan berpesan kepada orang beriman dalam QS. At-tahrim 6
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu… “
Sehingga telah jelas tujuan seorang pemimpin yang selalu mencintai Allah dan Rasul Nya melebihi apapun.
Dr. Thariq juga mengatakan, “Engkau memiliki satu tubuh maka hargailah, satu akal maka pandaikanlah dan satu kehidupan maka jalanilah.” Seorang pemimpin (dalam hal ini pemimpin rumah tangga) mampu mengoptimalkan apa yang dikaruniakan Allah terhadapnya.
Lain lagi dalam bukunya Salim A. Fillah yang berjudul, “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim.” Seorang pemimpin harus bisa menarik dan mengulur, mengendorkan dan mengencangkan. Maksudnya, bahwa manusia tidak hanya memerlukan financial benefit saja tapi juga emitional benefit. Ia mancoba untuk melihat apa yang dibalik sesuatu, mendengarkan yang tak terucapkan dan menilai dari berbagai sisi yang tak selalu linier. Sama saja saat ia mulai memasuki kehidupan berumah tangga, ia bukan orang yang suka memvonis istri dan anak-anak atau keluarga lain jika suatu saat terjadi suatu kesalahan.
Seorang wanita sholihah mendamba seorang laki-laki sholih yang akan hadir dalam kehidupannya dan membawa cahaya terang untuk keberlangsungan hidupnya dimasa yang akan datang. Seorang pemuda yang mampu merubah segala kenaifan dalam diri menjadi sebuah ketaatan yang sejati. Hadirnya seorang suami yang cerdas dan mantap dalam aqidah diharapkan mampu memberikan harapan dan impian baru untuk dijadikan partner dalam perjuangan.
Ya! Cerdas. Disebutkan dalam bukunya M. Anis Matta yang berjudul “Model Manusia Muslim abad XXI”, orang yang cerdas adalah mereka yang inovatif dan mampu mengelola informasi. Kemampuan inovasi atau mencipta adalah perpaduan antara kemampuan otak, akal dan imajiasi. Seorang pemimpin rumah tangga hendaknya mampu memberikan inovasi pada keluarganya baik kearah dunia dan atau akhirat.
Sesuai statement yang telah Allah firmankan dalam Alqur’an bahwa Allah tidak akan membiarkan seorang hamba mengatakan bahwa, “Saya telah beriman…” begitu saja tanpa diuji. Nah, untuk mempersiapkan ujian yang akan diberikan Allah perlu persiapan ilmu dan seorang pendukung (partner) yang cerdas, sehingga ia mampu menentramkan kala gundah menjelma, mampu memberikan ketenangan kala kecemasan melanda, dan mampu membesarkan hati kala kerisauan mulai merasuk, menelusup dalam pikiran dan jiwa.
Sebuah pepatah mengatakan, “Kejeniusan pria terletak pada akalnya sedang kejeniusan wanita terletak pada hatinya.” Sehingga harus ada perpaduan harmoni antara keduanya untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warohmah. Sebagaimana alur perayaan cinta yang digambarkan Salim A. fillah dalam bukunya.
Sebagaimana seorang suami, seorang istri pun hendaknya demikian, “Sirnalah kebahagiaan seorang wanita jika ia tidak mampu menjadikan suaminya kawan termulia.” Ia mampu menelorkan generasi-generasi penerus yang mampu merubah peradaban yang sesat dan mencetak jundi-jundi dalam Islam. Sehingga haruslah ia berbekal untuk membina dan mendidik putra-putrinya, sedang sebaik-baik bekal adalah taqwa.
Saya tidak semata-mata menitikberatkan pada urgensi kecerdasan seorang laki-laki dan perempuan dalam membina rumah tangga, (Ehm! karena saya sendiripun IQ nya juga rata-rata, tapi setidaknya mempunyai obsesi, inspirasi, keinginan dan impian kearah kebaikan untuk bisa melaksanakan. Dalam film The Secret bahwa semua yang terjadi yang kita inginkan berawal dari mimpi). Maaf saya lanjutkan kembali… Bahwa kecerdasan adalah penting, namun jangan sampai kita terlupa akan sebuah nasihat, “Setiap orang bahagia, bangga dengan kecerdasannya dan tidak dengan nasibnya.”
Yah… itulah. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Meskipun itu semua belum terwujud saat ini, tapi setidaknya ada niatan baik yang terinspirasi dalam pikiran untuk menjadi yang terbaik. Semuanya Allah yang menentukan. Begitu.
NB : Merokok menyebabkan bahaya kanker, impotensi, jantung, bau badan dan mulut, malas dan segala macam efek buruk lainnya. Sudah sepantasnya seorang pemimpin yang cerdas, yang berfikir, yang selalu introspeksi diri, dan beramal untuk kehidupan setelah kematian tidak akan melakukan hal itu karena tidak terlintas sama sekali dalam pikirannya.