Sedikit penulis akan bercerita dan tentunya mengajak berfikir para pembaca. Saking banyaknya keinginan yang akan dilakukan, sembari melepas angan dan mulai menyadarkan diri akan kenyataan yang terjadi, penulis memanjakan rasa penasaran dengan mencoba refresing untuk sekedar menonton film. Film yang penulis tonton bukanlah sebuah film yang islami banget, ataupun nasionalis banget. Melainkan sebuah film yang menggugah inspirasi dan menguak semangat untuk mewujudkan sebuah impian masa depan. Ini jika kita mampu mengambil segi positifnya, meski banyak segi negatif yang mewarnai. Namun begitu saya sarankan jika hanya sekadar refresing atawa merangsang inspirasi, mencari film atawa referensi lain saja, mumpung belum menonton (bagi yang belum).
Film yang berasal dari Jepang ini berbau medis dan mungkin secara otomatis akan mempengaruhi kita akan sebuah sikap objektif saat menentukan suatu pilihan. Disana menceritakan sebuah tim medis yang dengan semangat untuk berjuang menyelamatkan jiwa para pasien. Baginya satu jiwa adalah sangat berarti, bahkan banyak orang yang ingin meningkatkan kualitas diri dalam sisa hidup yang sedang mereka jalani. Mereka adalah sebuah tim yang solid, bukan hanya mengedepankan materi (uang) semata, melainkan mengedepankan segi-segi kemanusiaan.
Tim yang dikepalai seorang dokter ahli Jantung ini beserta timnya mampu memberikan kepuasan, sekalipun pasien yang sedang ditangani adalah musuhnya. Meski seorang musuh, karena dia adalah pasien, maka sudah secara otomatis kewajiban sebagai seorang dokter harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya.
Melalui tangannya yang lihai dalam membedah dan membuat jantung kembali berdetak, mereka menyelamatkan banyak orang meskipun bertaruh nyawa. Tidak terbesit sedikitpun akan kedudukan atau jabatan. Sekilas tentang isi film itu.
Tidak hanya pasien, para rekan dokter ahli lainpun terpana dengan cara kerjanya. Semangat untuk menyelamatkan jiwa manusia telah menyatu dalam dirinya meski sekecil apapun. Setiap pasien yang datang dengan merintih, setelah menjalani operasi melalui sentuhan tangannya akan kembali tersenyum bahagia saat kepulangannya. Para dokter itu mengantarkan pasiennya hingga sampai halaman RS Hokuyou, tentunya disertai senyum bahagia. Semuanya puas dan percaya akan kemampuan Asada Ryutaro Sensei beserta timnya, karena mereka tidak memasang harga tinggi dihadapan para pasiennya. Mereka menyebutnya, Team Medical Dragon.
Hanya waktu yang mampu mengatakan bahwa mereka adalah tim yang terbaik di Jepang. Semuanya dikerjakan secara objektif dan transparan. Tidak terselip sebuah pikiran untuk mencari keuntungan dari pasien ataupun penilaian dari manusia, apalagi melakukan korupsi yang dirasa itu adalah tindakan bodoh yang mampu menurunkan mental yang menjalani, itu sangat akan merugikan diri. Yang dicari hanya sebuah kepuasan diri kala melihat seseorang tersenyum bahagia karena bisa membantu semaksimalnya. Masalah imbalan, sudah ada yang memikirkan, karena memang negaranya mampu menghargai orang-orang pandai yang ada didalamnya. Itulah mengapa warga yang sekolah diluar negerinya ingin mengabdikan diri untuk negaranya.Kurang lebih seperti itu.
Akhirnya, pasien pun sejahtera. Tidak dipungut biaya sepeserpun dalam mencari kesehatan untuk dirinya, melalui asuransi jiwa, karena memang sudah dijamin oleh negara. Tidak perlu repot-repot memikirkan biaya, yang penting kesehatannya terjamin sehingga ia bisa berkarya lagi, dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya kembali. Terbentik dalam pikiran penulis, kapan negeri kita tercinta ini mampu memberlakukan sistem dimana semua warga negara telah dijamin kehidupannya, setidaknya dibidang kesehatan. Sehingga kesejahteraan rakyat tercapai.
Sebetulnya tidak musti melalui sistem asuransi, melainkan cukup menjalankan syari’at agama Islam dengan benar pasti akan terjamin kesejahteraannya. Cuma satu saja, menjalankan kewajiban berzakat dengan rutin dan konsisten yang telah diatur oleh agama melalui pemerintah itu saja sudah good marsogood! apalagi menjalankan semua tuntunan. Namun apakah itu hanya berhenti pada sebuah pertanyaan saja? Tidak lain dan tidak bukan bahwa kitalah yang menentukan.
Islam tidak bisa dijalankan dengan sendiri-sendiri, melainkan harus bersama-sama. Maka untuk mewujudkan negara yang sejahtera lagi aman sentausa musti dijalankan bersama-sama yang sudah semestinya diawalai dari kesadaran diri sendiri. Hal ini cocok dengan pemikiran salah seorang Ustadz di MTA. ”Bagaimana kalau kita mendirikan ibu kota MTA?” saya setuju Ustadz! Karena memang penulis bermiliu di MTA dan penulis ingin mengawali dari kelompok yang penulis ikuti. Meski kecil, tapi disana nantinya akan ditemukan sebuah sumber kekuatan yang hebat, karena berpijak dari Islam. Jangan takut, karena Islam adalah agama Rohmatan lil ’alamin, tidak suka dengan kekerasan dan lebih suka dengan kelembutan disertai dengan sentuhan kasih sayang.
Negara Jepang bukanlah negara Islam, tapi secara tidak sadar mereka menerapkan apa yang telah diajarkan dalam Islam, akhirnya mereka mampu menunjukkan pada dunia dengan kualitas sumber daya manusianya. Bukan berarti kita berkiblat pada mereka, tapi kita menyadarkan diri kita untuk lebih menyadari kebodohan kita dan lembeknya semangat untuk maju atas dasar ikhlas dan objektivitas, bukan berlandaskan tendensi tertentu untuk kepentingan pribadi, karena pada hakikatnya itu akan merusak citra diri.
Percayalah. Mari kita songsong semangat untuk maju, demi tujuan akhir nanti. Selamat mencontreng pemimpin yang tidak hanya berkedok kebaikan lagi bermata hijau, tapi mari kita tilik dan cermati para calon pemimpin bangsa, sehingga masyarakatpun sejahtera, setidaknya dalam bidang kesehatan mereka bisa mendapatkan. Sekian.