Senin, 6 Pebruari 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh Ubaidillah_Thalhah pada Selasa, 19 September 06kategori "AGAMA" ,dengan 1 komentar

Sebuah renungan

Cinta ini milikmu Ummi "Niswah, bangun.. Sarapanmu udah ummi siapin di meja." Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertauma kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan ummi tak pernah berubah. "Ummi sayang. ga usah repot-repot ummi, aku sudah dewasa." pintaku pada ummi pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika ummi mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa ummi selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa ummi mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami ummi karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ummi sedih. Seperti biasa, ummi tidak akan pernah mengatakan apa-apa. Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ummi, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan ummi. Apa yang bikin ummi sedih?" Kutatap sudut-sudut mata ummi, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata ummi berkata, "Tiba-tiba ummi merasa kalian tidak lagi membutuhkan ummi. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ummi tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, ummi tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri" Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk ummi dalam usiaku sekarang? Adakah ummi bahagia dan bangga pada putrinya? Ketika itu kutanya pada ummi. Ummi menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada ummi. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat ummi. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat ummi. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua." Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada ummi. Masih banyak alasan ketika ummi menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya ummiku melalui liku-liku kehidupan.. Ummiku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisadilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami ummi..... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat ummi lelah.. Sanggupkah aku ya Allah? --- +++ --- "Niswah, bangun nak.. sarapannya udah ummi siapin di meja.. " Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul ummi sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih ummi, aku beruntung sekali memiliki ummi yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan ummi." Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. . Cintaku ini milikmu, Ummi. Aku masih sangat membutuhkanmu. . Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.. --- +++ --- Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Allah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai.. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.. --- +++ --- "Ya Allah, cintailah ummiku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ummi. Dan jika saatnya nanti ummi Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip ummiku ya Allah.." Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya..
Maag saat Puasa
Ramadhan - BUKAN BULAN SUCI

REFLEKSI MUSIBAH GEMPA BUMI & TSUNAMI DI ACEH
Ternyata Neraka itu Lebih Mahal dari pada Surga
RUU APP
warning
NASIHAT
calon PENGHUNI....
Beragama Dengan Benar
mosquee....? baca dulu...
Hati-Hati Juga Penting
AKAL SEHAT MENOLAK FAHAM SESAT (beriman saja koq repot)
Ajarkan Lagi Kepadaku Ibu
Menyikapi perbedaan Pendapat
BERHATI-HATI DALAM MEMBERI FATWA
Menghamba Sepenuh Jiwa Raga
HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN
Hati yang buta
Bulan Ramadhan
Begitukah Seharusnya Anak Setelah Jadi Istri
Penting Untuk DITANGGAPI
Pudarnya pesona Cleopatra.

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat Satu komentar untuk tulisan ini

1 | Sabtu, 23 September 06
abi

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Allah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai.. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.. --- +++ --- "Ya Allah, cintailah ummiku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ummi. Dan jika saatnya nanti ummi Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip ummiku ya Allah.." Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya.. rasane kepengin nangis baca yang ini..... moga Alloh mengampuni semua dosa ibuku.... 13-3-2005


Menuju ke Form