Senin, 6 Pebruari 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh alkhansa pada Selasa, 30 Juni 09kategori "MTA JOGJA" ,dengan 1 komentar

Sebuah Resensi

 Judul buku : “Repubik Genthonesia, Maju Perut Pantat Mundur.”

Penulis       : Mbah Dipo

Penerbit     : Pro-U Media, Yogyakarta

Harga         : Rp 30.000,00

Tebal          : 254 halaman

 

 

 

Menyeruak Misi Tersembunyi

 

Banyak persoalan yang menghinggapi masyarakat dewasa ini. Hal ini otomatis menjadi pemikiran tersendiri bagi oknum-oknum yang termasuk didalamnya. Pola kehidupan masyarakat yang telah jauh menyimpang dari berbagai norma turut memberi warna masyarakat di negara ini. Berbagai macam kebodohan telah dilakukan masyarakat baik itu secara sadar, setengah sadar ataupun dalam kesadaran penuh. Meski sudah sering mendengar berbagai tausiyah, membaca buku-buku, dan mendengar nasihat-nasihat dari para kyai atau ulama serta mendapatkan pelajaran tata krama selama di sekolah, namun itu semua seakan tidak berbekas sehingga sulit membawa perubahan positif pada dirinya. Hal ini disebabkan karena mental yang tidak dilandasi iman sehingga mudah tergilas rutinitas keseharian yang telah menjadi suatu kebiasaan.

Melalui tulisan yang disajikan dalam bentuk cerita ringan  ini menggambarkan kondisi masyarakat sekarang. Mbah Dipo selaku penulis mengajak pembaca untuk berfikir, merenung dan menginterpretasikan sebuah kebenaran. Dengan mengambil posisi sebagai simbah, penulis bebas merdeka mengunakan bahasa, dengan gaya bahasa yang khas, njowo disertai analogi terbalik yang acap kali membuat para pembaca merasa tertohok ataupun tersenyum lebar, sesuai komposisi yang tertera didalamnya, 30% Guyonaneksida, 20% seriusida, 30% religiusida, dan 20% mimpikaliya.  Selain itu, uraian dari setiap topik yang dibahas disajikan mempunyai potensi untuk membuka mata para pembaca yang masih mengantuk dalam menjalani kehidupan untuk segera sadar dari kenyataan yang tengah dijalaninya. Saat melihat cover buku ini, dengan seni cetakan yang terlihat lux, dalam benak pembaca mungkin sudah bisa menerka akan para personel yang akan diceritakan didalamnya.

Buku yang berawal dari tulisan-tulisan sebuah blog ini turut memberi warna melalui lakon yang berbeda-beda yang disajikan dengan nama-nama unik ala mbah Dipo. Sentilan bahasa Jawa yang turut meramaikan buku ini menjadi bumbu tersendiri, sehingga mampu membawa pembaca merasa dekat dengan kehidupan yang sedang dilaluinya, Inilah yang menjadi salah satu kekuatan dalam buku ini.  

Dalam salah satu nasehatnya pada tulisan yang berjudul “the story of Nanto Bendhot” yang dilakonkan seorang remaja menginjak dewasa, seorang Nanto Bendhot dilakonkankan sebagai oknum pembuat onar di masyarakat. Disaat yang lain umak-umik baca doa sholat, Si Nanto Bendhot malah asik mengganggu prosesi jalannya sholat. Mulai dari mlotrokne wal bikin mlorot sarungnya Bandi Robot, atau nginjek kakinya si Eko Dobol, belum lagi saat pulang dari masjid, berangkat pakai Neckerban, pulang nyangking Neckerman. Begitulah salah satu karakter oknum pembuat onar di masyarakat. Dalam cerita ini penulis ingin memperingatkan pada masyarakat untuk mengajarkan akhlaq yang baik semenjak kecil, baik dari keluarga dan atau lingkungannya. Menurutnya, orang-orang seperti Nantho Bendot adalah hasil cetakan masyarakat dengan tanpa sadar. Baru tersadar setelah monster cetakannya tersebut memakan korban. Namun ironisnya mereka tidak mau disalahkan.  

Gagasan lain yang ingin disampaikan mbah Dipo terkadang terlihat sepele, namun jarang sekali terpikirkan oleh semua orang. Penulis yang juga dokter lulusan Universitas Sebelas Maret ini secara lihai memaparkan melalui sindiran kerasnya yang diberi judul “the global kemproh”. Hal sepele yang dikerjakan akan menjadi bumerang ketika banyak orang yang berfikir sama untuk melakukannya, seperti mrembuang sampah tidak pada tempatnya.

Begitulah keadaan manusia-manusia di republik genthonesia dengan beragam profesi mulai dari pelaku, pengamat, pemikir dan pengatur dimana masing-masing bertindak dengan gaya berbeda-beda sesuai fikrahnya.

            Disamping itu, pola-pola kehidupan yang mengedepankan hedonisme sering kali menjadikan rendahnya sebuah negara jika diberlanjutkan secara istiqomah, belum lagi mental-mental penjilat yang dengan lihai memoles wajahnya dengan kata-kata berlabel agama, dan menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang diinginkannya, masalah halal atau haram urusan belakangan. Dengan kemampuan amatirnya, mereka memvonis seseorang tanpa tahu akar permasalahannya. Seolah-olah ia adalah tuhan yang berhak memutuskan suatu perkara terhadap kehidupan seseorang. Inilah perilaku-perilaku masyarakat genthonesia pada umumnya dan inilah penyebab ketidakberkahan negeri yang sebetulnya sangat kaya, gemah ripah loh jinawi. Kebanyakan dari mereka tidak bersyukur dengan meningkatkan ketaatan, akan tetapi mereka selalu saja mengingkari peringatan-peringatan yang datang. Maka akibatnya bencana melanda negeri ini, dari segala penjuru.

            Fenomena diatas mengingatkan kita pada sepotong Firman Allah yang tertera dalam QS Al-A’raaf 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpah kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Maka tidak berlebihan jika Mbah Dipo yang mempunyai nama lengkap Ki Tamtomo Madipo mengatakan bahwa bangsa ini bermental gentho yang hampir seluruh aspek kehidupan masyarakatnya berkiblat pada negara-negara yahudi. Entah mengidolakan bedak dan bengesnya yang tebal yang menutupi wajah bobroknya, ataukan sesungguhnya mengidolakan wajah aslinya yang kemproh karena kebetulan wajah negeri ini sebenarnya juga tak kalah bobroknya, hanya kurang bedak dan benges saja.

Uraian yang disampaikan penulis seakan-akan ingin menelanjangi satu persatu oknum-oknum yang merasa terlibat didalamnya. Kadangkala bahasa yang digunakan seolah membanting para pembaca yang merasa terhina, dirasa jika memang penyampaiannya musti dengan bahasa demikian mengapa tidak? Cara penyampaian inilah yang dipakai Mbah Dipo untuk  mengutarakan hakikat kebenaran, atau kejengkelan, kegeraman, keprihatinan, dan segala sesuatu yang ia rasa perlu untuk berbagi sekadar memikirkan keberlangsungan negara ini.

Buku ini berpotensi mengingatkan kita akan sebuah misi sekaligus prinsip hidup masyarakat pada umumnya yang masih slintat slintut, tidak jelas dalam ”bekerja.”. Didalamnya juga memberikan nasihat-nasihat yang menyentuh dan penuh semangat tanpa melupakan fitrah, yakni tetap berpijak pada syariat Islam sehingga membuat buku ini memiliki nilai plus dengan gaya penyampaian yang berbeda dari buku-buku non fiksi lainnya.

Dengan kaplingan menarik, buku ini tersusun berdasar empat sisi, yakni sisi kelam, sisi buram, sisi kelabu dan sisi terang. Masing-masing bagian menunjukkan intensitas kebodohan masyarakat yang telah berjalan. Setiap tema yang diangkat dari setiap judul mampu membelalakkan para pembaca atas pola kehidupan yang berpotensi merusak sebagaimana biasa mereka lakukan, kemudian buku ini mencoba meluruskan dan menegaskan hakikat kebenaran yang sesungguhnya.

Seperti halnya yang tengah terjadi pada sebagian warga kampung yang sudah berasumsi bahwa yang namanya ngaji itu adalah belajar caranya tahlilan atau yasinan. Berbekal dua senjata pamungkas itu mereka berharap nantinya dapat memungkasi segala acara dengan doa yang walaupun tidak pas yang penting berbau arab dan diamini dengan sentausa. Ya… memang begitulah salah satu kondisi masyarakat yang mempunyai prinsip “yang penting ngikut”.

Tidak kalah menariknya dengan kumpulan kolom yang ditulis oleh Butet Kartaredjasa yang berjudul Presiden Guyonan. Dalam kumpulan tulisannya Butet juga menuangkan gagasan-gagasan yang dirasanya benar lewat lakon Mas Celathu dan istrinya. Ramuan bahasa jawa yang digunakannya juga cukup menarik  untuk menjadikan bukunya lebih menggigit.

Pantaslah buku ini dikonsumsi bagi orang yang mempunyai akal dan digunakannya untuk berfikir, karena kumpulan kertas ini bisa menjadi inspirasi tobat dan keselamatan dunia-akhirat sesuai label yang tertera dicovernya. Meski diwarnai dengan bahasa jawa, tapi terdapat terjemahannya sehingga mudah dipahami oleh siapa saja.

 

calon PENGHUNI....
perjalanan kejogja

kok excelent...?
MOTIVATION
Bekerja sama-lah!
PALAMTA TOUR DE NGANJUK
Sukses...Pengajian Bantul
Narasi Seorang Pemimpin
Lihat Lebih Dekat
pengalihan paradigma
Thanks To My Parent
Sebuah Mimpi Masa Depan...
Suatu Ketika, Ada yang Tak Sempurna
TABU YANG TERLUPAKAN....
Kudanya Pengembara
Occupational therapy
Mengapa Aku Memilih Dia
Akhwat Most Wanted
sudah benarkah sikap kita?
JEC bersama dalam Iedul Adha
AWas LOCH ada virus MERAH JAMBU!
kunjungan ke sma

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat Satu komentar untuk tulisan ini

1 | Rabu, 14 April 10
Syarif

sy jd kritis dlam berfikir, stlah mbaca GENTHONESIA,..

yg pasti nya sy sdah tobat dikiiiit2 alias sadar...
hahhha


Menuju ke Form