ditulis oleh nr pada Rabu, 28 Pebruari 07kategori "MTA JOGJA" ,dengan 8 komentarSudah Saatnya Orang Tua tidak Berpikir Dinosaurus
Sudah Saatnya Orang Tua Tidak Berpikir Dinosaurus (Purba)
Sharing yuuk!!
Hidup adalah membuat keputusan. Bagaimana caranya kita mengambil keputusan jika kita tahu apa yang kita ambil dan bagaimana caranya. Fenomena semacam ini sering dialami oleh para siswa jaman sekarang. Ada beberapa atau mungkin banyak dari mereka yang melanjutkan sekolah hanya sekedar patut-patut, tidak memikirkan tujuan atau inti dari sekolah yang dijalaninya. Banyak pula orang tua yang sering bertanya "kamu besok kalau sudah dewasa mau jadi apa?" pertanyaan demikian sudah secara otomatis dilontarkan oleh para orang tua yang memiliki anak, karena mereka sudah mengenyam manis pahitnya kehidupan sehingga umur yang sudah dijalaninya sekarang. Mereka sudah banyak makan garam dan sudah bisa melihat hasil dari proses yang dijalaninya ketika masih muda, sehingga ia bisa berkata demikian. Hal ini mungkin sering terjadi di masyarakat pedesaaan. Alangkah baiknya jika mereka berpikir 'meski orang biasa tapi berprestasi istimewa'.
Disisi lain, mereka tidak tahu menahu apa yang ada dalam pikiran anaknya yang masih duduk dibangku sekolah. Dalam pikiran anaknya mungkin sama sekali tidak ada gambaran mengenai masa depannya. Ya ?beginilah, hidup dijalani apa adanya, seiring dengan waktu yang berjalan, tanpa membuat suatu sensasi atau gebrakan. Karena mereka belum bisa berpikir sampai sejauh itu.
Dari hasil observasi penulis, fenomena ini ada karena kebanyakan dari siswa atau anak yang mempunyai pikiran demikian (tidak memikirkan masa depan) tidak pernah melihat berbagai macam profesi atau pengalaman mengenai profil seorang yang sukses. Dan hal ini merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh orang tua. Bagaimana caranya agar bisa membawa anaknya untuk menemukan sendiri gambaran masa depannya, tanpa ada kontaminasi dari orang lain. Sehingga mereka mempunyai konasi untuk berprestasi.
Kebanyakan cita-cita yang dilontarkan anak-anak diusianya yang relatif sangat muda, katakanlah TK atau SD, kebanyakan dari mereka jika ditanya 'apa cita-citamu?' jawaban yang sudah pasti bisa ditebak, kalau tidak dokter, guru, pilot, atau polisi dan sebagainya. Mereka sudah pantas jika menjawab demikian, karena yang mereka tahu dan yang biasa mereka lihat hanya sebatas profesi-profesi tersebut. Kebanyakan dapat dipastikan diwaktu besarnya mereka tidak mendapatkan apa cita-cita yang diucapkannya diwaktu dulu, karena terkikis oleh waktu. Bisa dibilang jawaban yang mereka lontarkan hanya sebagai abang-abang lambe atau sebagai lelamisan, atau agar tidak kalah dengan teman yang lain. Jarang sekali mereka menjawab 'aku ingin jadi teknisi yang professional, manager yang handal atau aku ingin jadi wirausahawan yang sukses, dan sebagainya.
Sebagai orang tua yang baik, mestinya tidak hanya menuntut anaknya untuk menjadi anak yang sholeh atau pintar dalam hal dunia tanpa mengenalkan dunia luar dan memberi contoh pada anaknya tentang hal-hal yang akan dicapai. Mungkin banyak orang tua yang menyepelekan anaknya yang masih kecil, padahal justru sewaktu masih kecil itulah kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Jika ia sudah bisa menangkap informasi yang sekiranya bermanfaat, mengapa tidak diberikan sebagai sarana belajar? Toh pada hakekatnya belajar tidak hanya dibangku sekolah saja, didikan orang tua adalah pembelajaran yang paling mudah diterima oleh anak, karena kedekatannya.
Didiklah anak sejak dini dengan mengajaknya untuk mengenal fenomena-fenomena dunia luar, melihat berbagai macam profesi dan cara kerjanya, dan mengajak berdiskusi tentang semua hal yang patut dikomentari dan patut dijadikan pelajaran bagi Si anak. Hal semacam ini adalah metode pembelajaran kooperatif, tidak pasif, monoton (formal) atau yang sering disebut metode konfensional. Dengan demikian, diharapkan anak mampu menemukan inisiatif sendiri dari pengalaman belajar yang didapat dari orang tuanya dan dari apa yang dilihatnya. Orang tua hanya sebagai fasilitator dan pemberi inspirasi bagi putra-putrinya saja. Mereka hanya membantu anak untuk menemukan hakikat hidup yang sebenarnya. Dengan begitu anak akan merasa bangga dengan orang tuanya tanpa orang tua menunjukkan jasa-jasanya. Yang berhak menentukan nasib anak adalah diri mereka sendiri bukan orang tuanya. Jika kita ingin anak kita bahagia dunia akhirat, bantulah mereka untuk menemukan hakikat hidup yang sebenarnya.
'Innalloha laa yughoyyiruu maa bi qoumin hatta yughoyyiruu maa bianfusihim (sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mau merubahnya sendiri)'.
Sehingga disini, jika anak melenceng dari jalur yang semestinya, bukan semata-mata karena kesalahan anak atau menyalahkan lingkungan, tapi pola didikan orang tua sejak dini sangat berpengaruh diusia remaja atau awal dewasanya. Sehingga orang tua perlu koreksi diri dan meningkatkan ketrampilan untuk mendidik anak mereka dengan benar.
Jika orang tua memberikan didikan disaat anaknya beranjak dewasa dimana ia sudah mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan, emosi labil sehingga membuahkan perilaku yang menyimpang, atau jika dalam istilah psikologis sering disebut dengan top dog phenomenon, maka bisa dikatakan sudah terlambat. Namun bukan berarti sebagai orang tua hanya membiarkan anaknya begitu saja tanpa memberikan arahan-arahan. Tetap orang tua berperan untuk menegurnya dikala mereka salah. Memang setiap perkembangan manusia, pasti melalui tahap perkembangan yang demikian, hal itu normal. Sebagai orang tua yang baru merasakan putranya mengalami perubahan yang cukup drastis sebagai ujian untuk menerapkan kesabaran dan pengetahuannya selama ini. maka dari itu, biarpun sudah menjadi orang tua, tetap harus banyak belajar dan terus belajar.
Beberapa waktu yang lalu saya membuka internet dan membaca sebuah situs yang disana menyebutkan kebahagiaan seorang ibu terhadap anaknya yang berusia balita, namun sudah hafal Al-Qur'an. Waaah?pengen khan?? mempunyai anak yang demikian?? Berikut uraiannya.. (bagi-bagi ilmu apa salahnya?!)
? Cerita dari Sekolah Penghafal Qur?an Balita
Saya tinggal di Iran dan punya anak usia empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk, wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisadijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz?amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll).
Kemudian, si guru ngajarin ayat ?wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23? dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, ?walidaini?, isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz ?amma.
Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll. Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .
Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, ?Mama, itu israf (mubazir)!? (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A?raf :31 ?kuluu washrabuu walaatushrifuu/ makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an) .
Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk ?Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan? (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk ?Mama, ghibah ya?? (soalnya, dia sudah belajar ayat ?laa yaghtab ba?dhukum ba?dhaa?/Mujadalah: 12). Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31)! , mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat ?lima taquuluu maa laa taf?alun? (As-Shaf:2). dia langsung bilang ?Nanti nggak gitu lagi Ma.!? Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran. Anak2 balita itu di masa depan akan mempunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless.. banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe?mamanya nakal ya?).
Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini. .), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab ?Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa? (Al Baqarah:168) . Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun.
Lelah??? Dapat menambah pengetahuan Anda?? Ok! Kalau masih ingin tahu, bisa dilihat di http://bundakirana.multiply.com/journal?&=&page_start=100 atau bisa dihubungi di bundakirana@yahoo.com
pengalihan paradigma
sudah benarkah sikap kita?
RAMADHAN... SEBENTAR LAGI
JEC bersama dalam Iedul Adha
sajak
TABU YANG TERLUPAKAN....
pengajian bantul
Sukses...Pengajian Bantul
Sebuah Mimpi Masa Depan...
kok excelent...?
Sebuah Resensi
Occupational therapy
AWas LOCH ada virus MERAH JAMBU!
PALAMTA TOUR DE NGANJUK
Untuk Semua Ibu dan Calon Ibu......
ISIAN GELOMBANG I (Tafsir Al-Baqarah ayat 67 - 71
Lihat Lebih Dekat
Akhwat Most Wanted
kunjungan ke sma
Asrama Mahasiswa
terdapat 8 komentar untuk tulisan ini
1 | Senin, 26 Maret 07
zahra
Exelent,ilmu yang bagus buat kita semua. tertarik sekali membaca artikel ini. Btw aq juga sudah lama ingin pola pendidikan dan pengajaran seperti itu. tidak hanya terbatas di sekolah htapi bagus juga diterapkan di rumah. Tapi sudah siapkah kita sebagai sumber dayanya? Perlu banyk dan banyak sekali persiapan dan pembenahan tentunya.
Kalau boleh komentar sih menurut ku pola pendidikan sekarang ini kurang begitu memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik anak, tapi lebih cenderung mengejar aspek kogniti terlalu berlebihan, jadinya aspek afektif dan psikomotor yang lebih penting untuk di asah pada masa anak-anak cenderung tidak terasah.
Kapan ya di Indonesia ada tempat pendidikan seperti di Iran?
pasti banyak ditunggu-tunggu...
Semoga saja akan tiba waktunya...
2 | Senin, 02 April 07
nr
mbak zahra, saya pikir untuk menerapkan metode mendidik anak demikian memang tidak mudah jika kita menuntut semuanya bisa melakukan secara serentak. tapi kita mulai dari diri sendiri, dengan cara mempersiapkan diri jadi ibu yang baik. yo ra mba'. hehehe...
3 | Senin, 02 April 07
zahra
Iya bener juga, tapi lebih tepat mempersiapkan diri jadi orang tua yang baik, bukan cuma ibu saja. Gmn coba kalau cuma ibunya saja yang persiapan, bisa-bisa bapaknya kalau pulang ke rumah anak jadi takut, kayak yang pulang dinosaurus hihihi... akhirnya masuk dech si anak ke kolong t4 tidur u sembunyi, parah kan?
Btw, kalau tau ada tempat penghafal Qur'an balita, kasih tau ya!
makasih ...
4 | Rabu, 04 April 07
nr
Ok mb'. ada nih, ditempatku. gratis lho...hehehe
Sekolah inklusi berbasis competensi, dengan kurikulum Qur'ani, and siap mengantarkan anak ke syurga illahi. doakan aja yo mb.
5 | Selasa, 14 Agustus 07
nr
ada sekolah di indonesia yang bermetode demikian. di bandung. atau hubungi aja alamat yang tertera di bawah itu jika ingin mengetahui lebih lanjut. di situ komplit plit plit..(kira2 ding!)
Menuju ke Form