Mulut merupakan gerbang masuk ke sistem gastrointestinal (pencernaan). Makanan dan minuman yang akan masuk ke pencernaan harus melewati mulut dahulu. Berbagai problem/penyakit di dalam mulut seringkali menimbulkan masalah bagi organ-organ lain. Banyak di antara kita yang kurang mengerti pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik. Gigi dan mulut dianggap sebagai hal yang sepele dan kecil. Baru setelah merasakan sakit gigi, aduh sakitnya ?., katanya lebih sakit daripada sakit hati, ya nggak sih?
Gigi juga sebagai faktor kita bisa berbicara dengan fasih, lho. Kalau nggak percaya coba lihat orang yang sudah tidak punya gigi jelas apa tidak bicaranya. Gigi ikut membentuk sistem yang terpadu dengan organ lain, seperti lidah, pita suara dan larynx, juga udara, sehingga menghasilkan huruf-huruf yang indah, Maha Besar Allah pencipta yang paling sempurna. Gigi dan mulut juga berperan penting dalam hubungan muamalah, bukankah kita perlu berbicara untuk berinteraksi dengan orang lain? Jangan menganggap remeh adanya sisa makanan yang menghiasi gigi kita dan bau mulut yang kurang sedap. Hal tersebut bukan hanya menyebabkan penampilan jadi tidak indah, namun juga mempengaruhi kenyamanan dalam berinteraksi, baik dengan keluarga maupun orang-orang di sekitar kita.
Sebelumnya, mari kita tengok kehidupan suri tauladan terbaik kita, Nabi Muhammad SAW. Betapa beliau amat memperhatikan kebersihan gigi dan mulutnya (bersiwak). Syuraih bin Hani bertanya kepada ?Aisyah ra, ?Dengan apakah Rasulullah SAW mengawali jika beliau memasuki rumahnya?? ?Aisyah menjawab, ?Dengan bersiwak.? (Riwayat Muslim).
Dalam riwayat lain Rasulullah juga menekankan pentingnya bersiwak dengan bersabda bahwasanya jika tidak karena takut akan memberatkan umatnya niscaya beliau menyuruh umatnya untuk bersiwak setiap sebelum sholat fardlu. Jadi, sehari sampai 5 kali. Begitulah beliau, Nabi Agung yang diberi tugas oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Menggosok gigi merupakan salah satu upaya preventif atau pencegahan timbulnya penyakit gigi dan mulut. Nah, kali ini kita akan mengupas tentang menggosok gigi yang baik dan benar. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan :
- Pemilihan sikat gigi
Sikat gigi yang baik mempunyai bulu sikat yang lembut/halus, ujung bulu membulat dan lebih kecil. Bulu yang keras menyebabkan email gigi rusak dan bisa melukai gusi. Ujung bulu sikat membulat agar tidak melukai gusi. Sedangkan ujung bulu yang lebih sempit/kecil agar bisa masuk ke sela-sela gigi terutama gigi-gigi belakang. Gantilah sikat gigi bila bulu sikat sudah melebar, biasanya setelah kurang lebih 3 bulan. Sikat gigi hanya boleh dipakai oleh satu orang jangan dipakai bersama-sama meskipun masih dalam satu keluarga. Rongga mulut tiap individu mempunyai jumlah dan jenis bakteri atau mikroorganisme yang bervariasi. Kadang kita menganggap karena masih dalam satu keluarga, tidak apa-apa jika saling bertukar sikat gigi. Penggunaan sikat secara bergantian akan menyebabkan pertukaran jenis dan jumlah bakteri dan mikroorganisme antar individu. Kasih sayang tidak harus diwujudkan dengan saling bertukar penyakit kan?
- Waktu gosok gigi
Waktu menggosok gigi yang paling tepat adalah sebelum tidur dan sesudah makan. Saliva (air ludah) mengandung antibakteri sehingga dapat mengurangi aktivitas bakteri di dalam mulut. Saat kita tidur, sekresi saliva (air ludah) menurun sehingga aktivitas bakteri meningkat. Jika terdapat sisa-sisa makanan di dalam mulut maka makanan tersebut akan difermentasikan oleh bakteri sehingga menghasilkan asam yang dapat merusak gigi.
Jika sedang dalam bepergian dan tidak membawa sikat gigi, minimal lakukan kumur-kumur yang kuat setelah makan.
- Cara gosok gigi
Yang tidak kalah penting adalah cara menggosok gigi yang benar. Arah menggosok gigi seharusnya dari arah gusi ke gigi, alias naik turun bukan mendatar (horizontal). Metode horizontal selain kurang efektif juga dapat menyebabkan abrasi pada gigi, terutama gigi taring, karena bentuk anatomi permukaan fasial (depan)-nya yang menonjol. Untuk permukaan kontak antara gigi geraham atas dan geraham bawah digosok dengan gerakan memutar sehingga fissure/ alur-alur permukaan kontak dapat dibersihkan dengan baik. Kekuatan saat menggosok gigi juga perlu diperhatikan. Jangan terlalu keras menggosok gigi, yang penting merata dan mencapai sela-sela gigi. Terlalu keras menggosok gigi dapat menyebabkan kerusakan gigi, contohnya abrasi.
Kebersihan gigi dan mulut yang tidak terjaga akan mengakibatkan :
a. Gigi mudah berlubang
Gigi berlubang tersebut disebabkan oleh produk asam dari bakteri yang dapat melarutkan email gigi. Semakin dalam lapisan gigi semakin lunak. Jika lapisan paling keras dari gigi yaitu email sudah berlubang, maka semakin mudah menembus lapisan selanjutnya yaitu dentin hingga sampai syaraf, nah itulah bagian yang bikin sakit sekali kalau sudah tertembus. Oleh karena itu, kalau sudah berlubang gigi sebaiknya segera ditambal supaya tidak semakin parah dan membutuhkan perawatan yang lebih sulit sekaligus lama.
b. Radang,yaitu gusi merah, membengkak, kadang sampai sakit
Radang (inflamasi) terutama disebabkan oleh plak gigi, yaitu endapan tipis yang melekat erat di permukaan gigi dan mengandung bakteri. Plak tersebut terbentuk dari sisa-sisa makanan yang merupakan nutrisi bakteri. Bakteri dan toksin/racunnya akan masuk ke gusi dan menyebabkan terjadinya radang.
c. Karang gigi
Plak yang bertumpuk-tumpuk lama-kelamaan akan mengeras membentuk karang gigi. Biasanya seperti kerak berwarna hitam, coklat, kuning, hijau, tergantung jenis bakterinya. Karang gigi ini tidak bisa dibersihkan dengan menggosok gigi, tetapi harus dengan alat kedokteran gigi, biasa disebut dengan scaling (pembersihan karang gigi). Dianjurkan untuk melakukan scaling dan pemeriksaan gigi 6 bulan sekali untuk mencegah kerusakan gigi.
d. Bau mulut tidak sedap
Bau mulut yang tidak sedap disebabkan oleh jenis bakteri anaerob. Bakteri ini umumnya terdapat di bawah gusi (subgingiva) karena tidak membutuhkan oksigen untuk hidup, dia hanya membutuhkan nutrisi. Akan tetapi, bau mulut yang tidak sedap juga bisa disebabkan adanya gangguan fisiologis/ sistemik tertentu, misalnya karena mempunyai penyakit gula atau sedang mengalami stress.
Demikian, semoga bermanfaat.