Mengkritisi soal wanita, hmm… memang buanyak keindahan didalamnya, namun kadang tidak seimbang dengan sisi gelapnya. Kadang kala juga terlalu njeglek jika ditimbang. Bukan maksud hati ingin melokalisasi biang ketidakbahagiaan seseorang, ataupun pemicu bobroknya mental suatu negara, tapi memang inilah fenomenanya.
Kalau kemarin-kemarin dibahas tentang “Akhwat Most Wanted”, sekarang “Wanita Modern ala Jahili.”
Katakanlah ada seorang wanita yang parasnya memukau hingga semua bola mata dibuat melongo melihat kecantikannya yang fana. Tubuhnya tinggi semampai, jika berjalan seperti macan luwe, lambaian tangannya mblarak sempal, giginya miji timun, hidungnya mbangir, lambenya nyigar jambe, matanya blalak-blalak, tangannya nggendewo pinentang, lan sak panunggalane… namun sayang, hatinya tak pernah tersentuh oleh sesuatu yang membuat tinggi derajatnya, sebagai wanita khususnya.
Saat seorang lelaki beraura setengah buas pengen menikmati keindahan tubuhnya bertemu dengan macam wanita demikian, mungkin koyo yak yak’o. apalagi paras sang lelaki lumayan perlente! Dengan mencoba segala macam metode ia lakukan demi mendapatkan simpati Si gadis berlesung pipi. Segalanya akan ditempuh demi mendapatkan sebuah senyuman maut yang mampu meluluhlantakkan perasaan takut akan Dzat yang bersemayam disana, meski pada akhirnya apa yang ia citakan tercapai juga.
Setelah berkelang waktu sekian lama, singkat cerita, keduanya tengah mengarungi bahtera rumah tangga yang dibagun dengan pondasi pelampiasan nafsu. Fitrah yang semestinya berkembang suci disunat dengan berbagai macam cara hingga berujung pada kekecewaan plus kecemasan. Mateng kepekso. Istilahnya.
Dalam perjalanan penyususunan keeksotisan rumah tangga dimata para tetangganya, banyak yang musti dipertaruhkan oleh Si laki-laki. Kalimat, “Tidak ada sesuatu yang lebih indah dari perjuangan” tidak lagi menjadi suatu kebanggaan, melainkan sebuah penyiksaan yang terus menderu. Ya… memang ia pernah mau dapat bea siswa keluar negeri atas prestasinya yang ok, otaknya encer… tapi pola pikirnya belum memenuhi standar manusia beradab, begitu kalau boleh saya bilang.
Namun saat ini ia harus berjuang keras, mengendalikan istrinya agar tidak masuk atau terjaring oleh kebuasan para buaya yang sedang berkeliaran. Ia berjuang demi menjaga keutuhan RT nya, karena Si istri tidak bisa diandalkan kelihaiannya dalam menjaga diri.. Toh nyowo untuk sekadar mengawasi tindak tanduk istrinya. Hhh… tidak seperti yang dulu pernah ia bayangkan, sebuah kebahagiaan bisa hidup berdampingan dengan seorang wanita yang cantik molek, pekerjaan mapan, sehingga rumah tangga terjamin bahagia, aman sentausa hingga lanjut usia. Tapi sayang, jalan yang ia tempuh tidak sesuai prosedur. Jadinya amburadul!
Malah denger-denger, sekarang semakin lebar saja tubuh Si istri, sudah tidak seperti yang dulu lagi, ramping lagi tinggi semampai. Namun anehnya semakin bertambah usia malah semakin menjadi saja ketidakmampuan dalam beretika. Peran yang semestinya ia jalani tersingkirkan oleh keindahan-keindahan di luar sana. Ia berusaha memoles kecantikan yang mulai pudar dengan dempul dan benges (lipstick_baca) dengan ketebalan beberapa senti dari permukaan bibir. Caranya berpakaiannya pun semakin ra ngadubilahi, kalau orang jawa bilang pating pecotot ra karuan genahe.
Akhirnya, bahtera RT mulai goyah karena tertiup nafsu liar yang mulai menggerayangi pikiran Si istri. Alih-alih “nggih sendiko dawuh “ pada Sang suami, malah beralih peran, sekarang Si istri yang bergerilya tiap malem apa gitu… sedang Si suami menjadi suami rumah tangga dengan segala keamatirannya. Inilah mimpi buruk bagi Sang suami.
Ketawadlua’an beralih menjadi sebuah keberangasan. Kesyukuran berubah menjadi kebiadaban, terus begitu hingga tak pantas lagi ia disebut sebagai manusia. Kebahagiaan yang diidam-idamkan kini telah menjadi puing-puing derita yang hanya bisa ternikmati dalam tangis dan derai peyesalan saja. “Kebahagiaan macam apa ini?” Kata Sang suami mencoba menyadarkan diri. Ya, beginilah…
Inilah penyebab utama pengerempengan tubuh Sang suami. Akhirnya terputuslah tali pengingat kasih sayang antara keduanya dengan berbekas anak perempuan yang masih berumur 2,5 tahun.. Jeralah Sang suami terhadap Si gadis bermata blalak-blalak yang dulunya pernah menyita perhatian hingga hampir 200 % dari 100% yang ia punya. Huh… menyedihkan.
Dalam hatinya berkata dengan nada kecewa, “ Walau dirimu begitu indah, maaf… kau tak pantas lagi bagiku.” Tampaknya ia sudah menyadari kesalahannya.